Sejarahhh

 

Pendapat saya orde baru ini benar-benar aneh banget.Bayangkan 6 kali pemilu yang menang golongan karya terus dan Suharto menjabat sebagai presiden selama 32 tahun(lama banget kan).Namun, Suharto juga punya andil besar dia yang membasmi PKI, dia juga yang menstabilkan ekonomi setelah orde lama. Walaupun pwmbangunan-pembangunan di era dia berafiliasi dengan keluarganya (cendana).

Orde baru juga terjadi dwifungsi ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) bayangkan banyak tentara menduduki jabatan sipil setingkat lurah, camat, kepala daerah dll.
Di era ini partai hanya ada 3, ini sengaja dilakukan untuk mudah mengendalikan stabilitasi politik. Dan kekuasaannya bersifat sentralis.

Runtuhnya Suharto terjadi karena krisis moneter  19996,1997,1998. Dimana masyarakat percaya bahwa ini ulah pemerintah yang salah menangani kondisi tersebut. Banyak mahasiswa turun ke jalan untuk menurunkannya hingga puncaknya ada beberapa mahasiswa ditembak. Dan itu membuat kemarahan bagi para demonstran. 1998 pemilu dimenangi oleh Suharto dan setelah pemilu Suharto mengundurkan diri dari jabatannya dan Habibie pun menjadi Presiden.

Berikut adalah dampak positif yang terjadi di masa Order Baru:


Masa pemerintahan yang lama membuat pembangunan menjadi berkesinambungan. Program pemerintah bernama Pelita atau Pembangunan Lima Tahun, terus menerus menyambung mulai dari Pelita I hingga Pelita VI sehingga hasilnya bisa dirasakan oleh masyarakat.


Pembangunan Lima Tahun selama 32 tahun banyak menitik beratkan pada sektor pertanian mengingat negara Indonesia adalah negara agraris, hal ini sempat membuahkan hasil manis dimana Indonesia bisa berswasembada beras.


Dampak dari swasembada beras ini adalah makin sejahteranya para petani di desa. Hal ini otomatis menurunkan angka kemiskinan di Indonesia.


Berikut adalah dampak negatif yang terjadi di masa Orde Baru:


Pemerintah bersifat otoriter sehingga semua kegiatan masyarakat diatur oleh tindakan pemerintah orde baru dalam politik luar negri akibatnya masyarakat tidak bisa leluasa dalam berkarya.


Pada masa Orde Baru atmosfir politiknya tidak sehat karena hanya ada satu partai lambang kekuasaan absolut sedangkan yang dua hanya sebagai tambahan saja agar Indonesia disebut sebagai negara demokrasi. Hal ini berdampak pada gagalnya pendidikan berpolitik pada masa itu.


Perwakilan rakyat hanya sebagai lambang saja, karena pada dasarnya hanya untuk melanggengkan kekuasaan saat itu, dampaknya rakyat Indonesia tidak bisa memilih presiden yang sesuai dengan hati nuraninya.